Awal Mula Hidup Mandiri

     Hai ini adalah kali pertama aku menulis. Aku akan bercerita beberapa pengalaman yang paling berharga dalam hidupku. Hmm seberharga apa sih? Yap, lanjut kita mulai. Perkenalkan saya Derry Purnamasari, lebih mudahnya panggil saja saya derry. Saya adalah anak berdarah sunda namun saya dilahirkan di kota nan jauh di ujung timur sana, ada yang tau? Ya benar Papua, tepatnya di Kota Nabire. Saya dilahirkan dan dibesarkan dengan budaya yang tentu bukan asli budaya dari orang tua saya, jadi wajar saja jika saya lebih fasih berlogat Papua dibandingkan berbicara menggunakan bahasa Sunda. Hehe. Saya habiskan masa kecil dan masa remaja saya di Papua. Sering banyak pertanyaan kamu orang Papua ya der? Kok putih dan masih banyak pertanyaan nyeleneh-nyeleneh lainnya. Haha


      Saatnya pun tiba saya dihadapkan dengan pilihan untuk masa depan saya, yang nota bene saya masih perlu bimbingan dan arahan dari orang tua saya apakah setelah saya lulus sekolah saya akan bekerja atau kah melanjutkan ke jenjang perkuliahan? Hingga akhirnya saya mengikuti arahan orang tua saya untuk melanjutkan ke bangku perkuliahan. Jujur awal mulanya saya takut dan ragu, saya berbicara kepada Ibu saya, Ibu jika saya kuliah di Jawa apakah saya akan mempunyai teman-teman seperti disini? Saya takut nanti tidak mempunyai teman disana bu. Saya mau disni saja. Imbuh saya. Lalu Ibu saya menjawab, tenang saja nak disana nanti kamu mempunyai banyak teman, apakah kamu tidak mau berkembang? Kamu tidak mau tau tentang Jawa? Kamu tidak perlu takut, sembari meyakinkan dengan senyum dan tatapan matanya. Saya masih setengah yakin dan tidak, dimana yang terfikir dalam benak saya adalah ketakutan-ketakutan akan bisakah saya hidup mandiri tanpa Ibu dan Bapak? Karena saya harus memilih, saya meng-iyakan pilihan orang tua saya. Ketika itu saya menangis sejadi-jadinya pada saat saya meninggalkan orang tua saya untuk berpamitan. Saya paling benci perpisahan tapi saya harus kuat, but it's ok ini semua demi mereka. Entah pada saat itu apa yang dirasakan Ibu dan Bapak saya apakah sama? Karena mereka merelakan anak perempuan bungsunya untuk pergi. Tapi tak sedikitpun wajah sedih mereka tampakkan ke Saya. Ya mungkin, kalau saja mereka memperlihatkan ke Saya,  Saya malah nggak jadi berangkat ke Jawa. Hehe. Saya salut mereka bisa tegar dan menguatkan saya. 


    Tibalah saya di Yogyakarta, kota yang menjadi pilihan saya untuk melanjutkan ke bangku perkuliahan. Kenapa memilih Jogja, simple sih karena ada Kakak saya yang lebih dulu kuliah di Jogja. Jadi saya lebih mudah untuk menyesuaikan. Saya kuliah ditempat yang sama dengan Kakak saya yaitu salah satu perguruan tinggi swasta yaitu Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto, tepatnya di daerah Bantul. Saatnya cari tempat tinggal, saya memilih kos-kosan yang tidak jauh dari kampus. Ya kurang lebih 5 menitlah dari kosan ke kampus. Ya maklum namanya maba belum punya kendaraan, biar kekampus bisa jalan kaki hehe. Kos-kosan pertama saya pada saat itu kosan masih baru dan belum ada penghuninya dan saya penghuni pertama. Kebayangkan betapa horornya, haha lebay ya. Malam pun tiba disaat mau tidur saya menangis, biasanya selalu ada Ibu dan Bapak tapi sekarang saya dihadapkan dengan situasi sendiri dan sepi. Nyesek sih tapi saya harus kuat. Akhirnya, seiring berjalannya waktu saya mulai terbiasa dengan situasi seperti ini. Saya lebih mandiri, melakukan apapun harus melalui proses. Diperkuliahan saya termasuk anak yang rajin dan aktif, tapi di akademik saya standart-standart aja sih gak pinter tapi bisa mengikuti hehe. Tidak ketinggalan saya mengikuti salah satu kegiatan diluar kuliah yaitu UKM Paduan Suara, karena saya suka nyanyi walaupun fals haha dan beraninya nyanyi keroyokan haha :D. Dari mengikuti kegiatan tersebut saya jadi mempunyai lebih banyak teman dari jurusan yang berbeda. Dan benar apa yang dibilang Ibu saya ternyata saya akan mempunyai banyak teman. Saya sangat senang sekali dan bersemangat menjalani hari-hari saya di Jogja. 


     Tak terasa saya sudah berada dipenghujung semester dimana saya harus mempersiapkan tugas akhir saya. Tapi saya sempat bekerja paruh waktu selama 7 bulan untuk mengisi waktu senggang saya. Dimana saya baru mulai merasakan bagaimana caranya untuk mendapatkan sesuatu harus berjuang terlebih dahulu. Saya bekerja tanpa meninggalkan tanggung jawab utama yaitu menyelesaikan skripsi. Ya walaupun kadang males sih ngerjain, kalian gitu juga gak sih? Ahhaa ya kan ayo ngaku :D. Dan pada akhirnya saya bisa lulus tepat waktu dan bahagianya lagi bisa ketemu Bapak dan Ibu pada moment wisuda. Dimana moment bersama mereka sudah jarang sekali. Bayangkan saja saya tidak bertemu mereka selama 4 tahun, melewati 48 bulan dan 1460 hari tanpa mereka, dimana saya belajar banyak dari keadaan. Keadaan yang memaksa saya bersikap dewasa dalam mengambil berbagai keputusan. Dan kalimat yang selalu memotivasi saya yaitu "Aku Pasti Bisa Melewatinya". Saya selalu yakini kalimat yang menjadi jargon saya haha. Setiap orang mempunyai fasenya tersendiri dan saya berhasil mempertanggung jawabkan kepada Ibu dan Bapak dengan hasil yang baik. Ya walaupun itu belum cukup membayar apa yang mereka berikan untuk saya. Pesan untuk adik-adik yang baru mau memulai langkahnya untuk melanjutkan masa depan. Jangan ragu untuk mencoba hal baru selagi itu positif buat kamu ya, ambil baiknya, buang yang buruknya. "Kamu adalah pemenang ketika kamu bisa mengalahkan dirimu sendiri".


Sekian, maafkan tulisan saya yang masih berantakan, masih perlu bimbingan dan terimakasih sudah mampir ;)

Comments

Post a Comment